Sunday, 23 February 2014

10 ORANG TERKAYA DI MALAYSIA -TERLATEST (15 FEB 2014) -MOKHZANI MAHATHIR NAIK KE TANGGA 9 TERKAYA








1) ROBERT KUOK -RM54.48B -RAJA GULA

2) ANANDA KRISHNAN- RM32.19B - MAXIS

3) TEH HONG PIOW - RM18.07B -PUBLIC BANK FOUNDER

4)  QUEK LENG CHAN -RM14.11B -HONG LEONG GROUP

5) LEE SHIN CHENG - RM13.12B - IOI GROUP

6) SYED MOKHTAR AL BUKHARY - RM11.07B

7) LIM KOK THAY -RM9.43B GENTING GROUP

8) LEE KIM HUA - RM7.47B GENTING GROUP

9) MOKHZANI MAHATHIR - RM4.22B

10) AZMAN HASHIM -RM4.11B - AMBANK GROUP






HK-BASED TYCOON: He is still country's wealthiest man with assets worth RM54b
KUALA LUMPUR: TAN Sri Robert Kuok is still Malaysia's richest man, well ahead of his nearest "rival" in Malaysian Business magazine's annual "Malaysia's Richest 40" list.
In its Feb 16 issue, the magazine listed Kuok's fortune at RM54.48 billion, up from last year's RM46.1 billion.
The Hong Kong-based tycoon's assets make up just over 25 per cent of the entire fortune of the 40 in the list which is RM217.82 billion, an increase of 11.73 per cent from last year's RM194.86 billion.
When the magazine first published the country's 40 richest individuals in 2002, their combined assets stood at RM41.7 billion and Kuok was on top of the list.
Tan Sri T. Ananda Krishnan remains in the second spot with RM33.19 billion, an increase of 0.88 per cent from last year's RM32.9 billion.
Public Bank founder and chairman Tan Sri Teh Hong Piow is third, a position he has held for the past four years, with assets worth RM18.07 billion.
Fourth on the list is Tan Sri Quek Leng Chan whose wealth, through his flagship Hong Leong Group and Guoco Group, is valued at RM14.11 billion.
In the fifth spot is Tan Sri Lee Shin Cheng of IOI Group, who switched places with Tan Sri Syed Mokhtar Albukhary who fell to the sixth spot.
Lee's wealth is valued at RM13.12 billion, up from RM10.56 billion a year ago.
Syed Mokhtar's assets increased by 4.43 per cent to RM11.07 billion from RM10.6 billion last year.
Genting Group's Tan Sri Lim Kok Thay and his mother, Puan Sri Lee Kim Hua, maintained their seventh and eighth positions, respectively.
Lim's wealth rose 16.18 per cent to RM9.43 billion while Lee's increased by 3.2 per cent to RM7.47 billion.
Datuk Mokhzani Mahathir, who was in the 13th spot last year with RM2.63 billion, climbed to the ninth spot with assets worth RM4.22 billion.
Rounding up the top 10 list is prominent banker Tan Sri Azman Hashim, via Arab-Malaysian Corporation, with assets worth RM4.11 billion.
The magazine noted that since 2002, 81 tycoons had joined the "Malaysia's Richest 40" list and out of that, 15 had managed to remain on it.
It said the steady increase of their wealth was attributed to share market performance and price inflation.
It also said there were 33 billionaires this year, two more than last year and 29 of the 40 saw their assets increasing from last year. Of that, 20 registered growth of more than 10 per cent.
It said there were two returnees to the list.
Datuk Tony Tiah of TA Enterprise ranked 38th with assets worth RM589.14 million, while Tan Sri Rozali Ismail of Puncak Niaga Holdings rounded up the top 40 list with RM543.74 million.
Others in the list were Tan Sri Tiong Hiew King of Rimbunan Hijau (RM3.79 billion), Ong Beng Seng of Hotel Properties Ltd (RM3.53 billion), Tan Sri Yeoh Tiong Lay of YTL Group (RM3.22 billion), Tan Sri Lau Cho Kun of Hap Seng Consolidated (RM3.12 billion), Tan Sri Shahril Shamsuddin (RM2.506 billion) and Datuk Shahriman Shamsuddin (RM2.46 billion) of Sapura Group.
Also in the list are Tan Sri Jeffrey Cheah Fook Ling of Sunway Group (RM2.15 billion), Datuk Lee Yeow Chor (RM2.03 billion) and Lee Yeow Seng (RM2 billion) of IOI Group, and Tan Sri Vincent Tan of Berjaya Group (RM1.9 billion).
Their wealth was assessed based on the value of their stakes in listed companies as of Jan 18.

(SUMBER : Yahoo News)



Saturday, 22 February 2014

KELEBIHAN SOLAT TAHAJJUD




Keutamaan Sholat Tahajud

Sholat Tahajud merupakan salah satu sholat malam yang memiliki banyak keutamaan, baik keutamaan untuk dunia maupun akhirat. Keutamaan sholat tahajud antara lain sebagai berikut

1. Dikabulkannya doa-doa kita
Dari Jabir radliyallahu’anhu, ia berkata, “aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam” (HR Muslim dan Ahmad)

2. Shalat yang paling utama
Bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasaalam, “seutama-utama shalat sesudah shalat fardu ialah shalat sunnat di waktu malam (HR Muslim)

3. Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang melakukan qiyamul lail
Abdullah bin salam mengatakan, bahwa nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah di waktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk surga dengan selamat” (HR Tirmidzi)

4. Akan mendapatkan tempat yang terpuji

Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ke tempat yang terpuji (qs. Al Isra: 79)
Melihat begitu tingginya nilai sholat tahajud sudah sepatasnya jika kita membiasakan diri untuk sholat tahajud setiap malam. Bagi yang belum terbiasa, cobalah dengan sungguh-sungguh. Mungkin pada awalnya akan sulit, tapi lama kelamaan jika sudah sudah terbiasa akan terasa ringan untuk dijalankan.






Wednesday, 19 February 2014

KEHEBATAN SOLAT TAHAJUD -KISAH 2





KISAH NYATA KEAJAIBAN DAN KEHEBATAN SHOLAT TAHAJUD

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Jam menunjukkan angka 4 pagi. Suasana hening. Tak ada yang bergerak kecuali dedaunan pohon yang ditiup oleh angin malam hari. Ujung-ujung dahan merangkul jendela rumahku.

Tiba-tiba alarm berbunyi. Khadijah langsung mematikan alarm. Bangun dan bergegas ke kamar mandi. Langkahnya begitu berat karena ia tengah mengandung 8 bulan. Perutnya semakin membesar dan kakinya membengkak. Mudah lelah, nafasnya berat dan wajahnya pucat, matanya membengkak karena banyak menangis.

Ia tetap bangun malam itu, padahal adzan subuh masih satu jam lagi. Khadijah adalah teman dekatku, usia perkawinannya sekitar tiga tahun. Pada saat diberitakan positif hamil, ia dan suaminya sangat girang membayangkan segera dapat menggendong anak pertamanya.

Namun pada beberapa bulan usia kehamilannya di saat visit ke dokter spesialis kandungan, setelah mendapatkan pemeriksaan sebagaimana biasa, lalu dokter tersebut mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya mengalami kelainan organik, hanya memiliki satu ginjal!

Subhanallah, ini terjadi di negeri Barat, yang ilmu kedokterannya sangat maju. Tetapi para dokternya tidak memiliki perasaan manusiawi sedikitpun, salah satu korbannya adalah temanku Khadijah yang secara psikologis menjadi takut dan mencekam setelah mendengar vonis dokter perihal bayinya.

Khadijah keluar dari pemeriksaan dengan wajah yang layu. Seperti orang yang linglung tidak tahu bagaimana bisa sampai ke rumah, kelahiran pertama dengan bayi yang hanya memiliki satu ginjal? Apa yang harus dilakukan? Ataukah dokternya yang salah mendiagnosa?

Khadijah dan suaminya tetap berikhtiar ke dokter lain, tetapi tetap saja mereka menjelaskan diagnosa yang sama, satu ginjal!!! Setiap kali visit ke dokter harapannya semakin tipis, hingga akhirnya ia pasrah menerima kenyataan.

Dokter terakhir yang menjadi langganannya mengatakan bahwa hendaknya ia jangan membuat dirinya menjadi lelah dan stres, karena hal itu tidak akan merubah keadaan anaknya.

Setelah itu ia sadar bahwa tidak ada yang dapat diperbuat olehnya melainkan menghadap Allah dengan doa. Sejak saat itu ia selalu bangun di sepertiga malam untuk tahajud dan mendoakan anak yang kelak akan dilahirkannya, ia yakin dengan firman Allah,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah 2:186)

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS Al-An’am :t 17)

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107.)

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. ((Q.S Al Mukmin : 60)

Juga Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap malam Allah Ta’ala turun ke langit dunia, ketika datang sepertiga malam terakhir, lalu Allah berfirman, “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku berikan, siapa yang memohon ampun kepada-Ku Aku ampuni”. (HR Bukhari Muslim).

Khadijah yakin tidak ada tempat untuk mengadu kecuali kepada-Nya, karena itu ia tidak ragu-ragu untuk selalu bangun satu jam sebelum fajar atau lebih. Meskipun kehamilannya menyebabkan lelah dan kurang tidur.

Setiap malam selalu bangun di sepertiga akhirnya, sujud di tempat shalat dengan penuh khusyu, seraya memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang putri yang sehat dengan ginjal normal (dua ginjal). Ia terus berdoa dengan suara yang lirih.

Tangisnya membasahi alas sujudnya. Tidak luput semalam pun dan tidak bosan sedikitpun dari sujud dan ruku’. Meskipun melakukannya dengan susah payah, ia tidak surut dari usahanya dan tidak mengeluh sedikitpun.

Setiap kali dokter kandungan memberitahukan hasil pemeriksaan, semakin bertambah semangatnya untuk qiyamullail di sepertiga malam terakhir.

Suaminya sangat iba kepadanya setiap malam bangun untuk bermunajat, sang suami khawatir istrinya depresi ketika putrinya lahir dengan satu ginjal. Namun ia sadar bahwasanya Allah SWT terkadang mengabulkan doa di akhir (last minutes), sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dari Abu Said Al-Khudry,

“Tiada seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung unsur dosa dan memutus silaturahim, melainkan Allah berikan kepadanya tiga kemungkinan: dipercepat pengabulan doanya, ditangguhkan pengabulan doanya sampai di akhirat nanti, atau dihindarkan dari keburukan sebanding dengan kebaikan yang diminta. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kita minta sebanyak-banyaknya.” Nabi bersabda, ”Allah lebih banyak lagi (karunia-Nya).” (HR. Ahmad).

Ia selalu mengingatkan suaminya bahwa tidak ada jalan baginya kecuali meminta kepada Allah. Jika tidak meminta kepada Allah, kepada siapa lagi kita meminta? Sebagaimana syair mengatakan:

Jangan meminta sesuatu kepada anak Adam ..
Mintalah kepada Yang pintu-Nya tak tertutup ...

Allah marah jika Anda tidak meminta-Nya ..
Sedang anak Adam marah jika diminta ...

Bagaimana Anda tidak meminta kepada Allah SWT, sementara Rasulullah telah meriwayatkan dari Tuhan melalui hadits qudsi,

“Hai hambaKu, seandainya yang pertama dari kalian dan yang terakhir dari kalian, seluruh manusia dan jin berdiri di satu tempat, lalu mereka meminta kepadaku, maka akan aku kabulkan permintaannya masing-masing, tidak ada yang berkurang sedikitpun dari-Ku, kecuali seperti berkurangnya air laut ketika jarum dimasukkan ke dalamnya lalu diangkatnya” (HR. Muslim)

Dua pekan sebelum kelahirannya, Khadijah datang ke rumahku. Ketika masuk waktu Zhuhur kami shalat berjamaah. Ketika aku bangun dari shalat, tangannya merengkuh tanganku seraya berkata bahwasanya ia merasakan sesuatu yang aneh.

Lalu kami segera pergi ke rumah sakit, ternyata hal itu adalah tanda-tanda akan melahirkan. Aku berdiri di sampingnya. Ia terus banyak berdoa dan memohon semoga anaknya yang lahir selamat dan normal dengan dua ginjal.

Setelah berjuang antara hidup dan mati, putrinya pun lahir, ia memberinya nama “Fatimah”. Fatimah lahir dengan berat badan yang kurang, posturnya kecil, akibat dari hanya satu ginjal yang dimilikinya. Khadijah menangis dan aku pun tak kuasa menahan tangis, karena membayangkan bagaimana Fatimah dapat hidup dengan hanya satu ginjal?

Tiba-tiba dokter datang dan yang mengejutkan dokter tersebut berkata bahwa ternyata Fatimah kondisinya sehat dan yang lebih mengagetkan lagi dokter menyatakan bahwa ternyata ginjalnya dua (normal). Kami terhenyak sejenak seperti tak percaya dengan semua ini. Subhanallah! Alangkah Penyayangnya Allah kepada makhluk-Nya.

Kini Fatimah berumur 5 tahun, semoga Allah melindunginya dan menjadikannya sebagai penyedap mata bagi yang memandangnya.

Wallahu’alam bishshawab



Sunday, 26 January 2014

KISAH TAAT KEPADA IBU - DIA MASHUR DI LANGIT





Dia hanyalah seorang penggembala kambing biasa. Sekali pandang, tiada apa yang istimewa tentang pemuda ini. Namun, dia mencatat sejarah hebat di kalangan manusia. Malah, baktinya yang tersembunyi mengangkat dirinya ke martabat yang amat tinggi. Sehingga Rasulullah SAW sendiri mengiktiraf bahawa memang benar Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit, bukan manusia di bumi!

Ketika zaman Nabi Muhammad SAW, Uwais Al-Qarni tinggal di negeri Yaman. Hidupnya sangat fakir dan dalam keadaan yatim. Dia cuma tinggal bersama seorang ibu yang sudah tua dan lumpuh. Malahan, ibu tua itu telah buta dan hanya bergantung harap pada Uwais untuk menguruskan kehidupannya. Di situlah mereka berdua beranak meneruskan kehidupan tanpa ada sanak saudara.

Walaupun miskin, Uwais kaya dengan budi bahasa dan amanah. Justeru, dia menjadi kepercayaan orang untuk menjaga ternakan mereka pada waktu siang. Upah yang diterima hanya cukup untuk menampung makan pakai mereka sehari-hari. Jika ada terlebih, Uwais akan membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dirinya.

Selain itu, Uwais terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Dia seringkali berpuasa dan malam hari masanya terisi dengan ibadah solat-solat sunat dan tahajud kepada Allah. Tatkala ibunya memerlukan bantuan, Uwais tidak pernah mengeluh dan akan menguruskan ibunya terlebih dahulu sebelum membuat perkara lain.

Sebenarnya, Uwais ada menyimpan satu keinginan. Dia ingin sekali berjumpa sendiri dengan Rasulullah SAW. Malah, hatinya merasa sedih setiapkali mendengar cerita jirannya yang dapat bertemu dengan Rasulullah. Apakan daya, dia tidak boleh meninggalkan ibunya yang uzur dan Uwais redha dengan keadaan itu.

Kecintaannya kepada Rasulullah juga bukan calang-calang. Ketika mendengar Rasulullah tercedera dan gigi baginda patah di dalam perang Uhud, Uwais lantas mengetuk giginya dengan batu sehingga patah. Ini sebagai ungkapan cintanya kepada Nabi Muhammad SAW sekalipun dia tidak pernah bertemu dengan baginda. Kerinduan dan kecintaan kepada nabi menyebabkan dia bertanya sendiri, bilakah dia akan bersua muka dengan kekasih Allah yang agung itu.

Tetapi seketika kemudian, Uwais kembali sedar bukankah tanggungjawab utamanya adalah berbakti kepada ibunya yang sudah uzur. Mana mungkin dia tegar meninggalkan wanita itu keseorangan. Lagipun, ibu itu amat dikasihi dan dijaga bagai menatang minyak yang penuh saban hari.

Sekian waktu berlalu, kerinduan kepada Nabi SAW yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, memberitahu keinginannya dan memohon izin serta restu agar dapat pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibunya merasa terharu mendengar permintaan Uwais dan berkata,

“Pergilah wahai Uwais, Temuilah Nabi di rumahnya. Kelak, selesai berjumpa dengan baginda, segeralah engkau pulang ke pangkuanku.”

Izin itu diterima Uwais dengan gembira. Segera dia berkemas untuk berangkat. Dia menyiapkan segala keperluan ibunya dan berpesan kepada jiran agar menemani ibunya selama dia pergi. Sesudah bersalaman dan mencium ibunya, Uwais pun berangkat ke Madinah.

Setelah melalui perjalanan yang jauh, akhirnya Uwais sampai di kota Madinah. Dia terus menuju ke rumah Rasulullah SAW dan mengetuknya. Salamnya dijawab seorang wanita. Itulah Siti Aisyah r.a. Dikhabarkan Rasulullah tidak ada di rumah kerana sedang berada di medan pertempuran. Kecewalah Uwais. Dari jauh dia datang namun Nabi tidak dapat ditemuinya. Kerana teringatkan ibunya yang sudah tua, hati Uwais serba salah. Perlukah dia menunggu Rasulullah? Di telinganya terngiang-ngiang kata-kata ibunya yang menyuruh dia lekas pulang. Apa khabar ibunya kini?

Akhirnya kerana ketaatan kepada ibunya, Uwais berangkat pulang dengan segera. Kepada Aisyah, dititipkan pesanan dan salam untuk Rasulullah.

Tidak lama kemudian, Rasululullah SAW pulang dari medan peperangan. Kedatangan Uwais disampaikan oleh Aisyah.

“Itulah Uwais Al-Qarni, anak yang taat pada ibunya. Dialah penghuni langit,” ujar baginda. Siti Aisyah dan sahabat tertegun.

Nabi berkata lagi “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah dia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi SAW memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi SAW kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi SAW itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan kambing dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali r.a, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahawa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tetapi ketika itu Uwais sedang solat. Usai solat, Uwais menjawab salam Khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi SAW ini dan menghulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabat, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi SAW. Memang benar! Kelihatan tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi SAW bahawa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam perbualan mereka, dinyatakan ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Kerana desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera sahaja Uwais marah dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni pun meninggal dunia. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut-rebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafannya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, orang berebut-rebut mengangkat jenazah dan mengiringinya.


Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi peristiwa yang menghairankan. Ramai orang yang tidak dikenali datang untuk menguruskan jenazahnya sehingga ke liang lahad sedangkan selama ini Uwais hanyalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Bermula saat dia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala kambing dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah yang begitu ramai. Mungkin mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan peristiwa-peristiwa ajaib yang berlaku ketika hari beliau wafat telah tersebar ke serata tanah Yaman. Baru hari itu mereka sedar siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Dihari wafatnya, mereka mengakui bahawa memang benar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi SAW, sesungguhnya Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.


Dikopipes dari : mtaqtanwiriah.blogspot.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...